LANGIT BIRU TANPA KABUT ASAP, CEGAH KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
Posko Kebakaran Hutan dan Lahan:
+62 8131 00 35000
+62 8131 62 35000
Kamis, 18 Juni 2020 11:04

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk Mitigasi Bencana Karhutla.

Pemanfaatan teknologi dalam pengendalian karhutla telah dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sejauh mana TMC ini berperan dalam pengendalian karhutla dikupas dalam sebuah webinar pada Rabu (17/06).

Kegiatan TMC pada mulanya dilaksanakan pada bulan Maret di Provinsi Riau sebagai antisipasi pertama puncak karhutla pada Maret-April. Berbekal analisis dan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), KLHK dengan mitra kerja bersama BPPT dengan menggunakan pesawat Cassa C 212 TNI AU melaksanakan operasi TMC di Provinsi Riau pada Mei lalu. Saat ini, kegiatan TMC masih berlangsung di Jambi dan Sumatera Selatan.

Tenaga Ahli Menteri KLHK Bidang Manajemen Landscape Fire, Raffles B. Panjaitan mengungkapkan saat ini KLHK telah melakukan inovasi yang cukup banyak dibandingkan tahun 2015 ke belakang. Selain melakukan upaya pencegahan hingga tingkat tapak, kita juga melakukan upaya dengan rekayasa hujan melalui TMC.

“Jika kita pantau hotspot Terra Aqua NASA, hanya satu hotspot terpantau di Riau pada saat pelaksanaan TMC, kondisi ini turun sangat signifikan dibandingkan dengan tahun 2019 periode yang sama yang mencapai 20 titik,” ungkap Raffles.

“KLHK juga menggandeng Kementerian/Lembaga serta stakeholders untuk melaksanakan TMC pada masa transisi ini untuk melakukan pencegahan karhutla dengan TMC,” tambah Raffles.

Widada Sulistya, Ketua Umum Ahli Atmosfer Indonesia, mengungkapkan jika prediksi BMKG pada bulan juni sudah masuk musim kemarau namun lahan masih terpantau hijau pada wilayah yang dilaksanakan TMC. Hal ini menunjukan kerja TMC yang telah dilaksanakan membuahkan hasil dengan mengurangi jumlah karhutla yang timbul.

Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, mengungkapkan bahwa kegiatan TMC pada masa transisi seperti ini sudah tepat. Kalau TMC dilaksanakan pada saat terjadi karhutla akan kurang efektif karena awan yang dimasuki asap sulit untuk disemai menjadi hujan.

Sebagai penutup Indroyono Soesilo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), mengungkapkan upaya yang harus lebih ditingkatkan ke depan dalam pelaksanaan TMC meliputi scientific evidences perlu diperkuat, memperbaharui sarana dan prasarana TMC, penggunaan pesawat yang efisien, perencanaan TMC yang lebih tajam, dan perlu keterlibatan multi-stakeholders secara lebih luas termasuk dunia usaha.

“Sejak adanya upaya TMC tinggi muka air di berbagai lokasi perusahaan Hutan HTI (Hutan Tanaman Industri) mengalami kenaikan, di Riau (60 HTI), Sumsel (16 HTI), dan Jambi (5 HTI) semua trennya naik,” ungkap Prof. Indroyono.

CETAK
Kontak

Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan,
Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok VII Lt. 13
Jl. Jend. Gatot Subroto Jakarta 10270
Tel/Fax : 021-5704618

Total Visitors